Uncategorized

BMKG Menolak Istilah Tornado untuk Amuk Angin di Rancaekek, Apa Alasannya?

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG menampik https://shop.elizabethandclarke.com/ definisi tornado untuk bencana amuk angin yang terjadi di Rancaekek, Kabupaten Bandung, dan daerah sekitarnya pada Rabu sore, 21 Februari 2024. BMKG lebih pilih selamanya menyebutnya sebagai puting beliung. Alasannya, istilah puting beliung udah cukup dipahami di tengah masyarakat. Tornado, sebaliknya, dianggap menyebabkan kepanikan dan kecemasan yang terlalu berlebih di tengah masyarakat.

“Bagi siapapun yang berkepentingan untuk tidak mengfungsikan istilah yang sanggup menyebabkan kehebohan di masyarakat, cukuplah mengfungsikan istilah yang familiar dan sanggup dipahami,” kata Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto kala dihubungi, Kamis, 22 Februari 2024.

Secara visual, Guswanto menjelaskan, pada puting beliung dan tornado sebenarnya sekilas sama wujud pusaran anginnya, namun kecepatan dan dampaknya berbeda. Tornado, yang sepanjang ini dikenal hanya barangkali terjadi di daerah lintang tinggi, lebih berbahaya daripada puting beliung.

Apa yang terjadi di Rancaekek sebenarnya meninggalkan pengaruh rusaknya yang luas. Video-video di sarana sosial termasuk tunjukkan kekuatan angin yang amat kuat, menciptakan panorama yang mencekam di lingkungan pabrik, perumahan, dan jalan raya.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menyebut sebanyak lima kecamatan terkena amukan angin itu. Dua kecamatan merupakan wilayah Kabupaten Sumedang, yakni Jatinangor dan Cimanggung. Sedangkan tiga lainnya di Kabupaten Bandung, yakni Cileunyi, Rancaekek, dan Cicalengka.

Sedikitnya 13 unit bangunan pabrik dan 10 unit tempat tinggal mengalami rusaknya di Kabupaten Sumedang. Sementara di Kabupaten Bandung, 18 bangunan pabrik dan toko serta 151 unit tempat tinggal warga rusak berat. Adapun 223 unit tempat tinggal rusak ringan dan 119 unit tempat tinggal rusak sedang.

Karena luasan pengaruh itu, termasuk taksiran kekuatan angin yang terjadi, Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menduga puting beliung di Rancaekek udah mendekati ambang batas minimal tornado. Dia menjelaskan, kecepatan angin minimum untuk kejadian tornado adalah 67 kilometer per jam. “Kita udah anggap tornado saja. Ini sanggup disebut kejadian yang tidak biasa,” katanya pada Rabu malam.

Foto udara kawasan industri yang terdampak angin puting beliung di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Kamis 22 Februari 2024. BPBD Provinsi Jawa Barat mencatat, bencana angin puting beliung yang terjadi di Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung berikut sebabkan 97 tempat tinggal dan 17 unit bangunan pabrik mengalami rusaknya serta 413 kepala keluarga terdampak dan 31 orang dilarikan ke tempat tinggal sakit. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Dia menaksir radius pusaran angin di Rancaekek capai lebih kurang 6 kilometer. Dan setelah mengamati rekaman video yang banyak beredar di sarana sosial, termasuk, foto-foto tentang pengaruh kerusakannya, pusaran angin itu dianggap udah selevel tornado mini.

Menurut Erma, tim dari BRIN udah terasa meneliti untuk mencari paham kecepatan angin yang sebenarnya di wilayah pada Rabu sore lantas berdasarkan alat pemantau. Durasi identik puting beliung itu pun bakal didalami oleh tim.

Anda mungkin juga suka...